Sabtu, 10 Desember 2011

PROSES KEPERAWATAN PREOPERATIF SECARA UMUM



Resuman Tentang keperawatan preoperatif by Dosen Arif Muttaqin S.Kep,Ns
Hari Jum'at, 9 Des 2011, Jam 19.00 WITA

Deskripsi
o  Fase preoperatif adalah suatu kondisi dimana pasien sudah diputuskan untuk dilakukan pembedahan sampai ke meja pembedahan tanpa memandang riwayat atau klasifikasi pembedahan.
o  Keahlian perawat perioperatif dibentuk dari pengetahuan keperawatan profesional dan keterampilan psikomotor, yang kemudian dibaurkan ke dalam tindakan keperawatan yang harmonis.
PENGKAJIAN
o  Pengkajian preoperatif pada kondisi klinik terbagi pada dua bagian, yaitu:
n  Pengkajian komprehensif yang dilakukan perawat pada bagian rawat inap, poliklinik, bagian bedah sehari atau bagian emergensi.
n  Pengkajian klarifikasi ringkas oleh perawat perioperatif di kamar operasi.
o  Pengkajian preoperatif secara umum, meliputi:
n  Pengkajian Umum.
n  Riwayat Kesehatan
n  Pengkajian psikososiospiritual.
n  Pemeriksaan fisik.
n  Pengkajian diagnostik.
Informed Consent
o  Informed Consent adalah suatu izin tertulis yang dibuat secara sadar dan sukarela dari pasien yang diperlukan sebelum suatu pembedahan dilakukan. Izin tertulis seperti itu melindungi pasien terhadap pembedahan yang lalai dan melindungi ahli bedah terhadap tuntutan dari suatu lembaga hukum.
o  Tanggung jawab perawat adalah untuk memastikan bahwa informed consent telah didapat secara sukarela dari pasien oleh dokter.
DIAGNOSA KEPERAWATAN PREOPERATIF
o  Kecemasan b.d. kurang pengetahuan tentang pembedahan yang akan dilaksanakan, hasil akhir paskaoperatif.
o  Koping individu tidak efektif b.d. prognosis pembedahan, ancaman kehilangan organ atau fungsi tubuh dari prosedur pembedahan, ketidakmampuan menggali koping efektif.
o  Kurang pengetahuan tentang implikasi pembedahan berhubungan dengan kurang pengalaman tentang operasi, kesalahan informasi.
RENCANA KEPERAWATAN PREOPERATIF
o  Pasien bedah perlu diikutsertakan dalam pembuatan rencana perawatan.
o  Rasa takut pasien yang telah diinformasikan tentang pembedahan
o  Keluarga juga merupakan rekan penting
o  Pasien bedah perlu diikutsertakan dalam pembuatan rencana perawatan.
o  Rasa takut pasien yang telah diinformasikan tentang pembedahan
o  Keluarga juga merupakan rekan penting
Kecemasan
o  Bantu pasien mengekspresikan perasaan marah, kehilangan dan takut.
o  Kaji tanda verbal dan nonverbal kecemasan, dampingi pasien dan lakukan tindakan bila menunjukan perilaku merusak.
o  Jelaskan tentang prosedur pembedahan sesuai jenis operasi
o  Beri dukungan prabedah
o  Hindari konfrontasi
o  Beri lingkungan yang tenang dan suasana penuh istirahat.
o  Tingkatkan kontrol sensasi pasien
o  Orientasikan pasien terhadap prosedur rutin dan aktifitas yang diharapkan.
o  Beri kesempatan kepada pasien untuk mengungkapkan ansietasnya.
o  Berikan privasi untuk pasien dan orang terdekat.
o  Kolaborasi : berikan anti cemas sesuai indikasi contohnya diazepam
Koping individu tidak efektif
o  Kaji perubahan dari gangguan persepsi dan hubungan dengan derajat ketidakmampuan.
o  Identifikasi arti dari kehilangan atau disfungsi pada pasien.
o  Anjurkan pasien untuk mengekspresikan perasaan.
o  Catat ketika pasien menyatakan terpengaruh seperti sekarat atau mengingkari dan menyatakan inilah kematian.
o  Pernyataan pengakuan terhadap penolakan tubuh, mengingatkan kembali fakta kejadian tentang realitas bahwa masih dapat menggunakan sisi yang sakit dan belajar mengontrol sisi yang sehat.
o  Bantu dan anjurkan perawatan yang baik dan memperbaiki kebiasaan
o  Anjurkan orang yang terdekat untuk mengijinkan pasien melakukan sebanyak-banyaknya hal-hal untuk dirinya.
o  Dukung perilaku  atau usaha seperti peningkatan minat atau partisipasi dalam aktivitas rehabilitasi.
o  Dukung penggunaan alat-alat yang dapat mengadaptasikan pasien, tongkat, alat bantu jalan, tas panjang untuk kateter.
o  Monitor gangguan tidur peningkatan kesulitan konsentrasi, lethargi, dan widhrawal.
o  Kolaborasi: Rujuk pada ahli neuro psikologi dan konseling bila ada indikasi.
Kurang pengetahuan
o  Tujuan: Dalam waktu 1 x 24 jam terpenuhinya pengetahuan pasien dan keluarga tentang pembedahan.
o  Kriteria evaluasi:
n  Pasien dan keluarga mengatahui jadwal pembedahan.
n  Pasien dan keluarga kooperatif pada setiap intervensi keperawatan
n  Pasien dan keluarga secara subjektif menyatakan bersedia dan termotivasi untuk melakukan aturan atau prosedur prabedah yang telah dijelaskan.
n  Pasien dan keluarga memahami tahap-tahap intraoperatif den pascaanestesi
n  Pasien  dan keluarga mampu mengulang kembali secara narasi intervensi prosedur pascaanestesi
n  Pasien dan keluarga mengungkapkan alasan pada setiap instruksi dan latihan preoperatif.
n  Pasien dan keluarga memahami respons pembedahan secara fisiologis dan psikologis
n  Secara subjektif pasien menyatakan rasa nyaman den relaksasi emosional
n  Pasien mampu menghindarkan cedera selama periode perioperatif
o  Kaji tingkat pengetahuan, sumber informasi yang telah diterima.
o  Diskusikan jadwal pembedahan
o  Diskusikan lamanya pembedahan
o  Lakukan pendidikan kesehatan preoperatif
o  Programkan instruksi yang didasarkan pada kebutuhan individu direncanakan dan diimplementasikan pada waktu yang tepat.
o  Beritahu persiapan pembedahan, meliputi:
n  Persiapan intestinal
n  Persiapan kulit
n  Pembersihan area operasi.
n  Pencukuran area operasi
o  Beritahu persiapan pembedahan, meliputi:
n  Persiapan istirahat dan tidur
n  Persiapan rambut dan kosmetika
n  Pemeriksaan alat bantu (protese) dan perhiasan.
n  Persiapan administrasi dan Informed Consent
o   Ajarkan aktifitas pada postoperasi, meliputi:
n  Latihan napas diafragma
n  Ajarkan latihan batuk efektif dan gunakan bantal agar mengurangi respon nyeri
o  Ajarkan aktifitas pada postoperasi, meliputi:
n  Latihan tungkai
o  Ajarkan Manajemen nyeri  keperawatan
n  Atur posisi immobiisasi pada area pembedahan
n  Manajemen lingkungan: lingkungan tenang, batasi pengunjung dan Istirahatkan pasien
n  Ajarkan teknik distraksi pada saat nyeri
n  Lakukan manajemen sentuhan
o  Beritahu pasien dan keluarga kapan pasien sudah bisa dikunjungi.
       THE END

Intrinsic Conducting system (sistem konduksi)




Rangkuman tentang (system Kardiovaskuler)
(with dosen Solikin,Ns.,M.kep.,Sp.Kep.MB)
Hari Selasa, 6 Des 2011, jam 08.00 WITA
Intrinsic Conducting system (sistem konduksi)
Terdiri dari :
*      Sinoatrial Node (SA Nodal)
*      Terletak di atrium kanan (tepat dibah vena cava superior).
*      Sebelum ke AV node SA node ke atrium kiri melalui berkas bachman.
*      Bicara SA node : Interprestasi EKG gelombang P (maksudx: kalau ad gangguan berarti hanya di atrium).
*      Gelombang P, normal : 3KK keatas, 3KK kesamping.
*      Atrioventricular node (SA Nodal)
*      AV node : bicara di daerah ventrikel
*      Letaknya diatrium (diatas katub trikuspidalis).
*      Bicara AV node :
*      Interprestasi EKG AV node kompleks gelombang QRS (saat depolarisasi) => mengompa/kontraksi.
*      Interprestasi EKG AV node gelombang T (saat repolarisasi) => pengisian/istirahat/relaksasi.
*      Maksudx : Apabila tejadi gangguan pada AV node kompleks QRS : gangguan pada ventrikel.
*      Gangguanx hanya ada 2 : QRS sempit (konduksi impuls terlalu cepat) dan QRS lebar (konduksi impuls terlalu lambat).
*      Maksudx : Hantaran konduksi impuls SA node ke AV node membuat terlalu lambat/cepat.
*      Berkas His (His Bundle)
*      Letaknya di septum intraventikular (antara ventrikel kiri/kanan).
*      Dia hanya sebagai hantaran.
*      Dia membagi kesisi lain melalui sel purkinje.
*      Sel Purkinje (Purkinje Fiber)
*      Letaknya : Diantara meokardium ventrikel kiri dan kanan.



1.      Konduksi impuls dikumpulkan di SA node da atrium kanan.
2.      Konduksi impuls tersebut dikirimkan ke atrium kiri melalui berkas bachman.
3.      Kemudian dihantarkan lagi ke atrium kanan untuk di impuls kan ke AV node,
4.      Kemudian kontraksi disemuanya.
Conduction System


1                    2                    3                     4                      5                      
SA Node

à Internodal branch
à  AV Node
à  Hiss Bundle
à Purkinje Fiber
à  Contraction

      The Electrocardiogram ( ECG )
      P wave : atrial depolarisation
      QRS complex : ventricular depolarisation
      T wave : ventricular repolarisation
      Atrial repolarisation hidden by QRS





Senin, 05 Desember 2011

INFLAMASI


RESPON TUBUH TERHADAP CEDERA
Peradangan dan Perbaikan 
(with persentasi kelompok III, by dosen dr. Hatta(Patologi)) 
Hari Senin, 5 Des 2011, Jam 18.00 WITA

DEFINisi inFLAMASI
Bila sel atau jaringan tubuh mengalami cedera atau mati, selama hospes tetap hidup ada respon yang mencolok pada jaringan hidup disekitarnya.
v  Penyebab :
  1. Agen kuman parasit
  2. Benda tajam
  3. Suhu
  4. Berbagai jenis sinar
  5. Listrik
  6. Zat kimia,
Inflamasi
Inflamasi (waktu)
1.     Fase akut
2.    Fase kronik
Gambaran radang akut
v  Saat reaksi peradangan timbul, terjadi pelebaran arteriola yang mensuplai darah ke daerah peradangan.
v  Keadaan ini disebut hiperemia atau kongesti, menyebabkan warna merah lokal karena peradangan akut

Gambaran radang akut
v  Kalor terjadi bersamaan dengan kemerahan dari reaksi peradangan akut.
v  Kalor disebabkan pula oleh sirkulasi darah yang meningkat.
v  Perubahan pH lokal atau konsentrasi lokal ion-ion tertentu dapat merangsang ujung-ujung saraf.
v  Rasa sakit disebabkan pula oleh tekanan yang meninggi akibat pembengkakan jaringan yang meradang
v  Pembengkakan sebagian disebabkan hiperemi dan sebagian besar ditimbulkan oleh pengiriman cairan dan sel-sel dari sirkulasi darah ke jaringan-jaringan interstitial.
v  Campuran dari cairan dan sel yang tertimbun di daerah peradangan disebut eksudat meradang
v  Functio laesa merupakan reaksi peradangan yang telah dikenal. Akan tetapi belum diketahui secara mendalam mekanisme terganggunya fungsi jaringan yang meradang.

RADANG KRONIK
v  peradangan yang telah berlangsung dalam jangka waktu yang lama(lebih lama jika dibandingkan dengan radang akut).
PENYEBAB :
  1. Infeksi virus
  2. Infeksi mikroba persisten
  3. Pajanan yang lama terhadap agen yang berpotensi toksik
  4. Penyakit autoimun
  5. Penyakit spesifik yang etiologinya tidak diketahui

Gambaran makroskopik radang kronik
v  Ulkus kronik àdasarnya dibatasi oleh jaringan granulasi dan fibrosa, contohnya pada ulkus peptik kronik lambung dengan luka pada mukosa.
v  Rongga abses kronik, yaitu rongga yang terbentuk oleh pus pada radang supuratif. Contohnya osteomyelitis.
v  Penebalan dinding rongga viskus, contohnya penebalan dinding pada kolesistitis kronik. Penebalan biasanya bersamaan dengan infiltrat sel radang.
v  Radang granulomatosa, yaitu kumpulan histiosit epiteloid sebagai akibat tidak dapat dihancurkannya substansi tertentu oleh makrofag. Contohnya pada penyakit tuberkolosis paru.
v  Fibrosis, yaitu proliferasi jaringan fibroblas setelah sel-sel radang kronik menghilang/mereda.

SEL SEL RADANG
Sel polimorfonukleus netrofil (mikrofag)
àLeukosit polimorfonukleus
    1. Netrofil : u/ fagositosis. Merupakan pertahanan pertama, karena dapat migrasi dengan segera dalam jumlah yang besar.menyerang kuman kecuali tuberculosis
    2. Eusinofil : jumlah bertambah à alergi, asthma, hipersensitif. Kemotaksis dan fagositosis lbh rendah dr netrofil
Sel fagositik besar berinti bulat (makrofag)
  1. Dalam darah : monosit ( sebagian juga dari jaringan)
  2. Dalam jaringan : makrofag, histiosit, sel kuprerr, sel retikoendotel, sel datia.

Ø  Sel kuprer : makrofag yang melapisi sinus sinus pada hati, daya fagosit sangan besar sehingga darah yg melalui hati à steriil
Ø  Sel retikoendotel : melapisi sinus sinus kelenjar getah bening, sum-sum tulang dan limfe.
Ø  Sel datia : sel besar berinti banyak.beberapa sel bersatu krn pembelahan inti yang tidak disertai pembelahan protoplasma.

Reaksi selular pada radang akut
v  Pada fase awal (24 jam pertama), sel yang paling banyak bereaksi adalah neutrofil atau leukosit.
v  Setelah fase awal (lebih dari 48 jam), mulai sel makrofag & sel yg berperan dlm kekebalan tubuh spt limfosit dan sel plasma beraksi.
v  Urutan kejadian yang dialami oleh leukosit adalah :
v  Penepian leukosit bergerak ke tepi pembuluh (marginasi)
v  Leukosit melekat pada pembuluh darah (pelekatan)
v  Diapedesis, leukosit keluar dari pembuluh darah (emigrasi)
v  Fagositosis, leukosit menelan bakteri dan debris jaringan.
Akibat radang akut & kronik
v  Akibat utama adalah perubahan jaringan
v  Bisa berupa degenerasi, lisis , maupun poliferasi jaringan

Proses penyembuhan dan perbaikan jaringan
PROSES
v  Proses penyembuhan dan perbaikan jaringan terjadi dalam 4 tahap :
Ø  Resolusi
Ø  Regenerasi
Ø  Pembentukan jaringan ikat (perbaikan)
Ø  Penyembuhan luka
Resolusi
v  Terjadi pada respon radang akut hingga cedera minor (cedera dengan nekrosis)
v  Jaringan dipulihkan ke keadaan sebelum cedera
Proses resolusi
Ø  Pembuluh darah kecil (anteriol) kembali normal
Ø  Aliran cairan yang keluar dr pembuluh darah berhenti
Ø  Cairan yang sudah dikeluarkan dr pembuluh darah diabsorbsi oleh limfatik
Ø  Sel sel eksudat keluar dari limfatik(benar benar dihilangkan dari tubuh)
Ø  Jika jaringan yang dihancurkan lebih banyak, resolusi gagal terjadi.
REGENERASI
v  Penggantian sel parenkim yang hilang dengan pembelahan sel parenkim disekitarnya.
v  Hasil akhir à penggantian unsur-unsur  yang hilang dengan jenis sel yang sama.
Faktor penentu regenerasi
v  Kemampuan regenerasi sel yang terkena cedera(kemampuan untuk membelah)
v  Jumlah sel variabel yang bertahan
v  Keutuhan kerangka jaringan ikat yang cedera.
Pembentukan jaringan ikat
v  Organisasi à pertumbuhan jaringan ikat muda kedalam daerah peradangan
v  Jaringan granulasi à jaringan ikat yang tumbuh
v  Jaringan granulasi à tdd pembuluh darah kecil yang baru terbentuk, fibroblast, sisa sel radang (berbagai jenis leukosit), bagian cairan eksudat dan zat dasar jaringan ikat.
v  Organisasi terjadi jika :
v  Banyak sekali jaringan mjd nekrotik
v  Eksudat peradangan tdk menghilang
v  Massa darah(hematum) tidak cpt menghilang
Terapi radang
v  Antibiotika à membunuh bakteri
          farmakokinetik :
          mudah rusak dalam suasana asam,didistribusi luas dalam tubuh, metabolisme dilakukan oleh mikroba berdasar pengaruh enzim dan diekresi melalui proses sekresi di tubuli ginjal.
v  Anti inflamasi nonsteroid (AINS)
          sifat analgesik, anti piretik, anti inflamasi. Farmakokinetik : pada pemberian oral sebagian salisilat diabsorbsi  cepat dlm bentuk utuh dilambung, sebagian di usus halus. Asam salisilat kebanyakan diabsorbsi di kulit sehat, terutama jika dipakai sebagai obat gosok atau salep.